SpongeBob SquarePants Squidward Tentacles ZIDNI ILMA: HIBAH DAN WASIAT

Rabu, 30 Mei 2012

HIBAH DAN WASIAT


BAB I
PENDAHULUAN


Pada hakikatnya, manusia tidak hanya berhubungan dengan Tuhan yang menciptakan, tetapi juga berhubungan dengan manusia dan alam sekitarnya. Karena jika ditinjau lebih dalam dan teliti rahasia dan hikmah dari ibadah kepada-Nya tersebut bukan berarti tidak ada hubungannya sama sekali dengan manusia sebagai pengabdi sesamanya dalam arti lain.
            Dari pemahaman tersebut maka dibutuhkan  ilmu  yang  berhubungan  dengan  sesama  manusia  untuk mendapatkan alat-alat yang dibutuhkan jasmaniah dengan cara yang sebaik-baiknya sesuai dengan ajaran agama dan tuntunan agama. Termasuk dalam masalah ini antara lain adalah hibah dan wasiat.
            Maka dalam makalah ini penulis akan menjabarkan tentang hibah dan wasiat yang bertujuan untuk menghindari kesewenang-wenangan dalam bersyarikat. Jadi, jelaslah bahwa agama Islam  itu bukan saja mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengatur hubungan antara manusia dengan manusia.

















BAB II
PEMBAHASAN


A.    HIBAH
1.      Pengertian Hibah[1]
Kata hibah berasal dari hubub ar-rih yang berarti hembusan angin. Dan kata ini digunakan untuk menunjuk pemberian dan kebajikan kepada orang lain, baik dengan harta maupun lainnya.
Menurut syariat, hibah adalah akad yang berisi pemberian sesuatu oleh seseorang atas hartanya kepada orang lain ketika dia masih hidup tanpa imbalan apapun.
Adapun hibah dengan makna umum, mencakup hal-hal berikut ini:
a.       Ibra’ (penghapusan hutang) yaitu penghibahan hutang kepada orang yang berhutang.
b.      Sedekah yaitu penghibahan sesuatu yang dimaksudkan untuk mendapatkan pahala di akhirat.
c.       Hadiah yaitu penghibahan sesuatu yang mengharuskan si penerimanya untuk mengganti (dengan yang lebih baik).

2.      Landasan Pensyariatan Hibah
Allah SWT telah mensyariatkan hibah untuk menyatukan hati dan menguatkan ikatan cinta antar manusia. Rasulullah SAW biasa menerima hadiah dan memberikan balasan atasnya. Beliau menyeru untuk menerima hadiah dan menganjurkan untuk memberi hadiah. Khalid bin Adiy meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ جَاءَهُ مِنْ  أَخِيْهِ مَعْرُوْفٌ مِنْ غَيْرِ إِشْرَافً وَلَا مَسْأَلَةٍ فَلْيَقْبَلَهُ وَلَا يَرُدُّهُ، فَإِنَّمَا هُوَ
رِزْقٌ سَاَقَهُ اللهُ إِلَيْهِ ( رواه حاكم و أحمد).

“Barang siapa yang datang kepadanya suatu kebaikan dari saudaranya tanpa harapan dan permintaan, maka hendaklah dia menerimanya dan tidak menolaknya. Sesungguhnya itu adalah rezeki yang dialirkan oleh  Allah SWT kepadanya”. (HR. Hakim dan Ahmad).

3.      Rukun dan Syarat Hibah[2]
a.      Rukun Hibah
Hibah dilakukan dengan ijab dan kabul, dengan perkataan yang menunjukkan proses pemberian suatu barang tanpa penukar.
b.      Syarat Hibah
Hibah mengharuskan adanya orang yang berhibah, orang yang diberi hibah dan barang yang dihibahkan. Masing-masing memiliki syarat sebagai berikut:
1)      Syarat orang yang berhibah
a)        Merupakan pemilik barang yang dihibahkan.
b)        Tidak dilarang untuk membelanjakan hartanya dengan salah satu dari sebab-sebab pelanggaran.
c)        Memiliki kebebasan berkehendak, karena hibah adalah akad dimana keridhaan adalah syarat keabsahannya.
2)      Syarat orang yang diberi hibah[3]
Orang yang diberi hibah disyaratkan benar-benar ada ketika hibah diberikan. Tidak sah kepada anak yang berada dalam kandungan ibunya dan kepada binatang. Karena keduanya tidak dapat memiliki.
3)      Syarat barang yang dihibahkan
a)        Barangnya benar-benar ada.
b)        Merupakan harta yang memiliki nilai.
c)        Bisa dimiliki.
d)       Tidak menempel dengan harta orang yang berhibah secara tetap, seperti tanaman, pohon dan bangunan tanpa tanah.
e)        Merupakan milik pribadi.

4.      Macam-macam Hibah
Hibah dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu[4]:
a.       Hibah barang adalah memberikan harta atau barang kepada pihak lain yang mencakup materi dan nilai manfaat harta atau barang tersebut, yang pemberiannya tanpa ada tendensi (harapan) apapun. Misalnya  menghibahkan rumah, sepeda motor, baju dan sebagainya.
b.      Hibah manfaat, yaitu memberikan harta kepada pihak lain agar dimanfaatkan harta atau barang yang dihibahkan itu, namun materi harta atau barang itu tetap menjadi milik pemberi hibah. Dengan kata lain, dalam hibah manfaat itu si penerima hibah hanya memiliki hak guna atau hak pakai saja. Hibah manfaat terdiri dari hibah berwaktu (hibah muajjalah) dan hibah seumur hidup (al-amri). Hibah muajjalah dapat juga dikategorikan pinjaman (ariyah) karena setelah lewat jangka waktu tertentu, barang yang dihibahkan manfaatnya harus dikembalikan.

5.      Mencabut Hibah
Penarikan kembali atas hibah adalah merupakan perbuatan yang diharamkan meskipun hibah itu terjadi antara dua orang yang bersaudara atau suami isteri. Adapun hibah yang boleh ditarik hanyalah hibah yang dilakukan atau diberikan orang tua kepada anak-anaknya.
Dasar hukum ketentuan ini dapat ditemukan dalam hadits Rasulullah SAW[5] yang diriwayatkan oleh Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majjah dan Tirmidzi yang artinya berbunyi sebagai berikut :
“Dari Ibnu Abbas dan Ibnu 'Umar bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak halal bagi seorang lelaki untuk memberikan pemberian atau menghibahkan suatu hibah, kemudian dia mengambil kembali pemberiannya, kecuali hibah itu dihibahkan dari orang tua kepada anaknya. Perumpamaan bagi orang yang memberikan suatu pemberian kemudian dia rujuk di dalamnya (menarik kembali pemberiannya), maka dia itu bagaikan anjing yang makan, lalu setelah anjing itu kenyang ia muntah, kemudian ia memakan muntah itu kembali”.

B.     WASIAT
1.      Pengertian Wasiat
Istilah wasiat diambil dari washaitu ushi asy sayi’a yang berarti aku menyampaikan sesuatu.
Wasiat menurut syariat adalah penghibahan benda, piutang atau manfaat oleh seseorang kepada orang lain setelah kematian orang yang berwasiat.
Sebagian ulama mendefinisikan wasiat sebagai pemberian kepemilikan setelah masa kematian melalui derma.

2.      Rukun dan Syarat Wasiat
a.      Rukun Wasiat
Rukun wasiat adalah ijab dari orang yang berwasiat. Ijab dilakukan dengan ungkapan, isyarat dan boleh juga dengan tulisan apabila seseorang yang berwasiat tidak mampu berbicara
b.      Syarat Wasiat
1)      Syarat orang yang berwasiat
Disyaratkan agar orang yang berwasiat adalah orang yang diperbolehkan untuk berderma karena memiliki kapabilitas yang sempurna. Kapabilitas yang sempurna adalah:
a)      Memiliki akal.
b)      Sudah baligh.
c)      Merdeka.
d)     Bebas berkehendak.
e)      Tidak adanya hajr (larangan untuk membelanjakan harta).
2)      Syarat-syarat orang yang menerima wasiat
a)      Bukan ahli waris dari orang yang berwasiat.
b)      Orang yang diberi wasiat tidak membunuh orang yang berwasiat.
3)      Syarat sesuatu yang diwasiatkan
a)      Bisa dimiliki setelah kematian orang yang berwasiat.
b)      Dibolehkan mewasiatkan setiap harta yang memiliki nilai.

3.      Batalnya Wasiat[6]
a.       Jika orang yang berwasiat gila total dan kegilaannya berlanjut sampai mati.
b.      Jika orang yang diberi wasiat meninggal sebelum orang yang memberi wasiat.
c.       Jika sesuatu yang diwasiatkan adalah tertentu dan ia musnah sebelum diterima oleh orang yang diberi wasiat.


BAB III
PENUTUP


Hibah dan wasiat adalah perbuatan hukum yang mempunyai arti dan peristiwa yang berbeda dan sekilas tampaknya begitu sepele apabila dilihat dari perbuatan hukum dan peristiwanya sendiri. Meskipun tampaknya sepele tetapi apabila pelaksanaannya tidak dilakukan dengan cara-cara yang benar dan untuk menguatkan atau sebagai bukti tentang peristiwa hukum yang sepele tadi, padahal khasanah materi hukum Islam dibidang hibah dan wasiat ini bukan hukum ciptaan manusia, tetapi hukumnya ditetapkan Allah SWT dan Rasul-Nya (Qs. Al-Baqarah ayat 177 dan 182).























DAFTAR PUSTAKA


Balian Zahab.2010. Hibah dan Wasiat. balianzahab.wordpress.com. (Diakses pada tanggal 29 Mei 2012 pukul 20:40 WIB)
Ibnu Hajar Al Asqilani. 2011. Bulughul Maram. Jakarta: Pustaka As Sunnah
Orang Jembatan Bakubung. 2012. Makalah Hibah. http://orang-jembatan.blogspot.com/2012/02/makalah-hibah.html. (Diakses pada tanggal 29 Mei 2012 pukul 13:47 WIB)
Sayyid Sabiq. 2011. Fiqh Sunnah 5. Jakarta: Pena Pundi Aksara
Sulaiman Rasjid. 1954. Fiqh Islam. Jakarta: At Tahiriyah


[1] Sayyid Sabiq. 2011. Fiqh Sunnah 5. Jakarta: Pena Pundi Aksara. (hlm: 449-450)
[2] Sayyid Sabiq. 2011. Fiqh Sunnah 5. Jakarta: Pena Pundi Aksara. (hlm: 453-454)
[3] Sulaiman Rasjid. 1954. Fiqh Islam. Jakarta: At Tahiriyah.
[4] Orang Jembatan Bakubung. 2012. Makalah Hibah. http://orang-jembatan.blogspot.com/2012/02/makalah-hibah.html. (Diakses pada tanggal 29 Mei 2012 pukul 13:47 WIB)
[5] Ibnu Hajar Al Asqilani. 2011. Bulughul Maram. Jakarta: Pustaka As Sunnah. (hlm: 457)
[6] Sayyid Sabiq. 2011. Fiqh Sunnah 5. Jakarta: Pena Pundi Aksara. (hlm: 508)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar