SpongeBob SquarePants Squidward Tentacles ZIDNI ILMA: REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ISLAM ATAUKAH POLEMIK PENDIDIKAN???

Selasa, 27 Maret 2012

REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ISLAM ATAUKAH POLEMIK PENDIDIKAN???


Oleh: Afif Arundina Raniyatushafa’*
                                             

Menyandang kalimat pendidikan Islam, tidak akan terlepas dari sekelumit pertanyaan tentang komponen-komponen yang berada di dalamnya seperti halnya kurikulum dan strategi pembelajaran yang kemudian memunculkan aliran-aliran untuk menuai jawaban atas realita yang menjadi wajah asli dari pendidikan Islam masa kini dan masa lalu, bahkan boleh jadi hal itu akan membuka masalah baru dalam pendidikan Islam.
Pendidikan Islam adalah sebuah sarana untuk menyiapkan masyarakat muslim yang benar-benar mengerti tentang Islam. Disini para pendidik muslim mempunyai satu kewajiban dan tanggung jawab untuk menyampaikan ilmu yang dimilikinya kepada anak didiknya, baik melalui pendidikan formal maupun non formal. Selain itu pendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju kedewasaan, baik secara akal, mental maupun moral untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban sebagai seorang hamba di hadapan Khaliq-nya dan juga sebagai khalifatu fil ardh (pemelihara) di alam semesta ini. Pendidikan Islam berbeda dengan pendidikan yang lain. Pendidikan Islam lebih mengedepankan nilai-nilai keIslaman dan tertuju pada terbentuknya manusia yang berakhlaqul karimah serta taat dan tunduk kepada Allah SWT semata. Sedangkan pendidikan selain Islam, tidak terlalu memprioritaskan pada unsur-unsur dan nilai-nilai keIslaman, yang menjadi prioritas hanyalah pemenuhan kebutuhan indrawi semata.
Dalam prakteknya selama ini, pendidikan Islam pada umumnya masih menggunakan budaya dan cara lama yang tidak memunculkan pemikiran yang kreatif dan inovatif seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, selain itu juga kurang kritis terhadap masalah-masalah aktual.
Padahal, seharusnya pendidikan Islam merasa dituntut untuk berinovasi dalam pendidikan baik dari sistemnya maupun metode yang digunakan. Hal ini, dimaksudkan agar pendidikan Islam mampu menjawab kebutuhan seiring dengan perkembangan zaman. Jika pendidikan Islam hanya berkutat pada budaya lama dan tidak menyesuaikan dengan perkembangan IPTEK, sudah pasti pendidikan Islam akan menuai kevakuman bahkan tidak akan diminati dan akan ditinggalkan.
Selain itu juga perlu adanya rekonstruksi metode atau model pembelajaran yang digunakan di dalam pendidikan Islam. Hal ini diharapkan dapat mengikuti tuntutan anak modern yang selalu kritis dan lebih berpikiran maju dari anak zaman dahulu yang cenderung manut dan tunduk terhadap apa yang disampaikan guru. Pendidikan Islam ke depan harus lebih memprioritaskan kepada ilmu terapan yang sifatnya aplikatif, bukan saja dalam ilmu-ilmu agama akan tetapi juga dalam bidang teknologi. Bila dianalisis lebih jeli selama ini, khususnya sistem pendidikan Islam seakan-akan terkotak-kotak dan ada pemisahan antara urusan keduniaan dan akhirat. Padahal, Islam bukanlah agama sekuler yang memisahkan urusan agama dan dunia. Dalam Islam, agama mendasari aktiitas duniadan aktivitas dunia dapat menopang pelaksanaan ajaran agama. Islam bukan hanya sekedar mengatur hubungan manusia dengan Tuhan sebagaimana yang terdapat pada agama lain, melainkan juga mengatur hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan dunia. Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai rasul. Islam pada hakikatnya, membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengatur satu segi, tetapi mengenai berbagai segi kehidupan manusia. Sumber dari ajaran-ajaran yang mengambil berbagai aspek itu adalah Al Qur’an dan As Sunnah.
Rekonstruksi pendidikan yang digalakkan pada era ini, harus lebih menitik beratkan pada persoalan dikotomi ilmu pengetahuan hingga memunculkan masalah Islamisasi ilmu pengetahuan (termasuk pendidikan). Sehingga materi-materi pendidikan Islam mampu mengakomodasi kebutuhan manusia dengan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan, teknologi, seni serta budaya, sehingga mampu melahirkan manusia yang berkualitas, tangguh dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan unggul dalam moral yang didasarkan pada nilai-nilai ilahiyah sebagai produk pendidikan Islam. Dengan kata lain pendidikan dalam hal ini pendidikan Islam, akan menghasilkan ilmuwan yang tidak hanya unggul dalam ilmu sains akan tetapi juga ilmuwan yang mengerti akan posisinya sebagai khalifah di muka bumi yang bertakwa kepada Allah SWT serta menjalankan apa yang diperintah dan menjauhkan apa yang dilarang oleh-Nya.
Pendidikan Islam harus menjadi kekuatan yang ampuh untuk menghadapi wacana kehidupan yang lebih krusial. Refleksi pemikiran dan rumusan persoalan pendidikan Islam harus bernafaskan kekinian (up to date). Jika dipandang secara historis, memang adanya suatu kejadian yang telah lalu, dapat dijadikan sebuah pelajaran untuk menjadi lebih baik lagi. Pendidikan Islam harus menjadi terobosan baru untuk membentuk pola hidup umat yang lebih maju dan terbebas dari kebodohan dan kemiskinan. Sebab secara filosofi yang sudah tidak asing lagi untuk diketahui bahwa antara kebodohan dan kemiskinan itu merupakan dua sifat manusia yang mengkristal dan menjadi musuh bebuyutan pendidikan.


Judul Buku : Rekonstruksi Pendidikan Islam (Dari Paradigma Pengembangan, Manjemen Kelembagaan, Kurikulum Hingga Strategi Pembelajaran
Penulis : Prof. Dr. Muhaimin, M. A.
Penerbit : PT RajaGrafindo Persada Jakarta (2009)






*Mahasiswi Fakultas Agama Islam Program Studi Tarbiyah, UMS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar