SpongeBob SquarePants Squidward Tentacles ZIDNI ILMA

Selasa, 01 November 2011


KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ISLAM, PERANAN DAN PRODUKTIVITASNYA

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Pendidikan
 Semester V
Dosen Pengampu: Drs. Ari Anshori, M. Ag




Oleh:
Afif Arundina Raniyatushafa’
G 0000 900 45






PROGRAM STUDI TARBIYAH
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2011




BAB I
PENDAHULUAN


Sejalan dengan tantangan kehidupan global, pendidikan merupakan hal yang sangat penting karena pendidikan salah satu penentu mutu Sumber Daya Manusia. Keunggulan suatu bangsa tidak lagi ditandai dengan melimpahnya kekayaan alam, melainkan pada keunggulan Sumber Daya Manusia (SDM). Mutu Sember Daya Manusia (SDM) berkorelasi positif dengan mutu pendidikan. Sedangkan mutu pendidikan sering diindikasikan dengan kondisi yang baik, memenuhi syarat dan segala komponen yang terdapat dalam pendidikan. Komponen-komponen tersebut adalah masukan, proses, keluaran, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana serta biaya.
Mutu pendidikan akan tercapai apabila seluruh komponen tersebut memenuhi syarat tertentu. Namun dari beberapa komponen tersebut yang lebih banyak berperan adalah tenaga kependidikan yang bermutu, mampu menjawab tantangan-tantangan dengan cepat dan tanggung jawab. Tenaga kependidikan pada masa mendatang akan semakin kompleks, dituntut untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian penguasaan kompetensinya.
Tenaga kependidkan mempunyai peran yang sangat strategis dalam pembentukan pengetahuan, ketrampilan dan karakter peserta didik. Oleh karena itu, tenaga kependidikan yang profesional akan melaksanakan tugasnya secara profesional sehingga menghasilkan tamatan yang lebih bermutu. Ketercapaian tujuan pendidikan sangat bergantung pada kecakapan dan kebijaksanaan kepemimpinan kepala sekolah, yang merupakan salah satu pemimpin pendidikan. Karena kepala sekolah merupakan seorang pejabat yang profesional dalam organisasi sekolah yang bertugas mengatur semua sumber organisasi dan bekerjasama dengan guru-guru dalam mendidik siswa untuk mencapai tujuan pendidikan.








BAB II
PEMBAHASAN


A.    Kepemimpinan Pendidikan Islam
Banyak definisi yang mengungkapkan makna kepemimpinan, diantaranya adalah:
1.      Menurut Surat Keputusan Badan Administrasi Kepegawaian Negara No. 27/KEP/1972, kepemimpinan adalah kegiatan untuk meyakinkan orang lain sehingga dapat dibawa serta dalam suatu pekerjaan.
2.      Terry dan Rue (1985) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seorang pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama secara sadar dalam hubungan tugas yang diinginkan.
3.      Yulk, menyatakan beberapa definisi yang dianggap cukup mewakili makna kepemimpinan yaitu:
a.       Perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai secara bersama.
b.      Pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi ke arah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu.
c.       Proses memberikan arti (pengarahan yang berarti)  terhadap usaha kolektif dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran.
Sedangkan yang dimaksud dengan pemimpin adalah orang-orang yang menentukan tujuan, motivasi dan tindakan kepada orang lain. Seseorang dapat diangkat menjadi seorang pemimpin apabila mempunyai kelebihan dari anggota lainnya. Kelebihan itu bisa berasal dari dalam dirinya dan luar dirinya. Kelebihan yang berasal dari dalam dirinya berupa bakat yang ia miliki berupa sifat-sifat kepemimpinan yang efektif. Kelebihan yang berasal dari luar karena ia dikenal dan mempunyai hubungan baik dengan yang sedang berkuasa, punya teman baik, dari keturunan kaya dan sebagainya[1]. Bisa dikatakan, pemimpin adalah jabatan atau posisi seseorang dalam sebuah organisasi.  
Berdasarkan hal diatas maka, pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Kekuasaan yang dimaksud adalah kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakannya. Berkaitan dengan kepemimpinan pendidikan Islam maka dapat diartikan, sesorang yang menjadi pemimpin dalam sebuah sistem pendidikan yang dikembangkan dan disemangati (dijiwai) oleh ajaran dan nilai-nilai Islam[2].

B.     Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Lembaga Pendidikan Islam
Seseorang yang menjadi pemimpin dalam lembaga-lembaga pendidikaan mempunyai sebutan-sebutan tertentu. Seperti misalnya pemimpin dalam sebuah pesantren disebut dengan Kyai. Sedangkan dalam pemimpin dalam pendidikan Islam disebut dengan kepala sekolah.
Kepala sekolah memiliki peran yang sangat besar. Kepala Sekolah merupakan motor penggerak, penentu arah kebijakan sekolah dan  pendidikan secara luas. Sebagai pengelola institusi satuan pendidikan, kepala sekolah dituntut untuk selalu meningkatkan efektifitas kinerjanya. Untuk mencapai mutu sekolah yang efektif, kepala sekolah dan seluruh stakeholders harus bahu membahu kerjasama dengan penuh kekompakan dalam segala hal.
Peranan kepala sekolah adalah sebagai orang yang memiliki kepribadian, manajer, wirausahawan, supervisor dan sosial[3]. Sebagai orang yang berkepribadian, setiap kepala sekolah harus memiliki akhlaq mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlaq mulia, integritas kepribadian sebagai pemimpin dan sikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagai pemimpin pendidikan.
Sebagai manajer, kepala sekolah melakukan perencanaan program sekolah, memimpin sekolah, mengawasi dan mengevaluasi sekolah. Sebagai wirausahawan, kepala sekolah harus kreatif (termasuk inovatif), mampu membaca peluang, berani mengambil resiko dengan perhitungan yang matang, mampu belajar dari kesalahan-kesalahan, kerja keras, hemat, ulet dan mampu memasarkan sekolah agar memiliki siswa yang banyak. Sebagai supervisor, kepala sekolah mampu merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru, melakukan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan teknik dan pendekatan supervisi yang tepat dan menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru. Sebagai sosialis, kepala sekolah harus mampu bekerja sama dengan orang lain untuk kepentingan sekolah, berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, dan memiliki kepekaan sosial terhadap masyarakat dan lingkungan.

C.    Peranan Kepala Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan
Secara garis besar, ruang lingkup tugas kepala sekolah dapat diklasifikasikan ke dalam dua aspek pokok, yaitu pekerjaan di bidang administrasi sekolah dan pekerjaan yang berkenaan dengan pembinaan profesional kependidikan. Untuk melaksanakan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya, ada tiga jenis keterampilan pokok yang harus dimiliki oleh kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan yaitu keterampilan teknis (technical skill), ketrampilan berkomunikasi (human relations skill) dan ketrampilan konseptual (conceptual skill).
Menurut persepsi banyak guru, keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah dilandasi oleh kemampuannya dalam memimpin. Kunci bagi kelancaran kerja kepala sekolah terletak pada stabilitas emosi dan rasa percaya diri. Hal ini merupakan landasan psikologis untuk memperlakukan stafnya secara adil, memberikan keteladanan dalam bersikap, bertingkah laku dan melaksanakan tugas.
Dalam konteks ini, kepala sekolah dituntut untuk menampilkan kemampuannya membina kerja sama dengan seluruh personel dalam iklim kerja terbuka yang bersifat kemitraan, serta meningkatkan partisipasi aktif dari orang tua murid. Dengan demikian, kepala sekolah bisa mendapatkan dukungan penuh setiap program kerjanya.
Keterlibatan kepala sekolah dalam proses pembelajaran siswa lebih banyak dilakukan secara tidak langsung, yaitu melalui pembinaan terhadap para guru dan upaya penyediaan sarana belajar yang diperlukan.
Kepala sekolah sebagai komunikator bertugas menjadi perantara untuk meneruskan instruksi kepada guru, serta menyalurkan aspirasi personil sekolah kepada instansi kepada para guru, serta menyalurkan aspirasi personil sekolah kepada instansi vertikal maupun masyarakat. Pola komunikasi dari sekolah pada umumnya bersifat kekeluargaan dengan memanfaatkan waktu senggang mereka. Alur penyampaian informasi berlangsung dua arah, yaitu komunikasi top-down yang cenderung bersifat instruktif, sedangkan komunikasi bottom-up cenderung berisi pernyataan atau permintaan akan rincian tugas secara teknis operasional. Media komunikasi yang dapat digunakan oleh kepala sekolah adalah rapat dinas, surat edaran, buku informasi keliling, papan data, pengumuman lisan serta pesan berantai yang disampaikan secara lisan[4].
Dalam bidang pendidikan, yang dimaksud dengan mutu memiliki pengertian sesuai dengan makna yang terkandung dalam siklus pembelajaran. Secara ringkas dapat disebutkan beberapa kata kunci pengertian mutu, yaitu sesuai standar (fitness to standard), sesuai penggunaan pasar atau pelanggan (fitness to use), sesuai perkembangan kebutuhan (fitness to latent requirements), dan sesuai lingkungan global (fitness to global environmental requirements).  
Sehingga kepala sekolah disamping menjadi icon pemimpin dalam sebuah lembaga pendidikan, juga dituntut untuk terampil dalam memanajerial kepemimpinannya.

D.    Produktivitas Pendidikan Islam
Dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 1 ayat 1 dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam prespektif pendidikan Islam, potensi manusia diistilahkan dengan fitrah manusia. Dengan demikian, pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Upaya pendidikan disamping berusaha untuk mengembangkan potensi-potensi fitrah manusia, juga berusaha menyelamatkan dan melindungi fitrah manusia dalam semua aspek kehidupannya.
Pengintegrasian iman dan taqwa dengan materi pembelajaran, proses pembelajaran dalam memilih bahan ajar dan integrasi dalam memilih media pembelajaran diupayakan untuk tidak sampai berlawanan dengan ajaran Islam.
Disisi lain, tujuan pendidikan Islam di sekolah adalah sebagai berikut[5]:
1.      Menumbuh kembangkan aqidah melalui pemberian, pemupukan dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengalaman, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT.
2.       Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi, menjaga keharmonisan secara personal dan sosial. (Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi)
Adanya undang-undang dan peraturan tersebut menggaris bawahi perlunya pemahaman dan kesadaran kita tentang posisi pendidikan Islam. Posisi pendidikan Islam seolah-olah terpojokkan, bersifat eksklusif dan hanya menjadi tugas guru agama, maka dengan adanya undang-undang dan peraturan tersebut posisi pendidikan Islam justru menjadi “core” pendidikan. Pendidikan Islam bukan hanya menjadi tugas guru agama saja, tetapi merupakan tugas bersama antara kepala sekolah, guru agama, guru umum, seluruh aparat sekolah dan orang tua murid.


















BAB III
PENUTUP

Kepemimpinan sangat berpengaruh dalam proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Agar pengaruh yang timbul dapat meningkatkan kinerja personil secara optimal, maka pemimpin harus memiliki wawasan dan kemampuan dalam melaksanakan gaya kepemimpinan. Kemampuan pemimpin dalam memerankan gaya kepemimpinan yang bertumpu kepada partisipasi aktif semua personil sekolah akan memunculkan keberhasilan seorang pemimpin. Konsentrasi pemimpin terhadap kinerja personil pada akhirnya sasaran yang hendak dicapai adalah peningkatan prestasi sekolah pada umumnya dapat tercapai adalah peningkatan prestasi sekolah pada umumnya dapat tercapai dan pada khususnya menghasilkan tamatan yang berkualitas.






















DAFTAR PUSTAKA


Fayaz Aziz. 2006. Man Sayahkumul ‘Alam. Solo: Era Intermedia.
Husaini Usman. 2011. Manajemen (Teori, Praktik dan Riset Pendidikan). Jakarta: Bumi Aksara.
Jamal Ma’mur Asmani. 2009. Manjemen Pengelolaan dan Kepemimpinan Pendidikan Profesional. Jogjakarta: DIVA Press.
Muhaimin. 2009. Rekonstruksi Pendidikan Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Muhammadinah. 2007.  Peranan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. http://blog.binadarma.ac.id. (diakses pada tanggal 30 Oktober 2011 pukul 20.47 WIB)
Mujamil Qomar. 2007. Manajemen Pendidikan Islam. Jakarta: Erlangga




[1] Husaini Usman. 2011. Manajemen (Teori, Praktik dan Riset Pendidikan). Jakarta: Bumi Aksara. (hlm: 282)
[2] Muhaimin. 2009. Rekonstruksi Pendidikan Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. (hlm: 14)
[3] Husaini Usman. 2011. Manajemen (Teori, Praktik dan Riset Pendidikan). Jakarta: Bumi Aksara. (hlm: 278)
[4] Muhammadinah. 2007.  Peranan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. http://blog.binadarma.ac.id (diakses pada tanggal 30 Oktober 2011 pukul 20.47 WIB)
[5] Muhaimin. 2009. Rekonstruksi Pendidikan Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. (hlm: 45)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar