SpongeBob SquarePants Squidward Tentacles ZIDNI ILMA: Desember 2010

Jumat, 31 Desember 2010

APLIKASI TEORI PEMBELAJARAN BEHAVIORISME DALAM FILM THE MIRACLE WORKER


Film ini selain mengisahkan tentang kesuksesan Hellen Keller setelah mampu memaknai makna setiap kata yang dia eja berkat kucuran air dari pompa, juga memiliki aplikasi dari teori pembelajaran behaviorisme.
Ibu Hellen, Catie Keller memang sangat memanjakan Hellen. Meskipun Ia berbuat salah namun Catie memberinya Reward berupa permen agar kenakalan Hellen dapat dihentikan. Pada dasarnya Catie juga tidak tahu mengapa ia memberikan reward berupa permen ataupun kue ringan, namun karena kecintaan dan keinginan agar kenakalan Hellen dapat diredakan maka inilah alasan yang ia jukan. Pemberian reward ini tidak disetujui oleh Annie Sullivan karena dengan seperti itu Hellen akan merasa semakin berkuasa dan terbiasa atas hal-hal yang ia lakukan dan menyimpang. Annie berpendapat, Hellen akan mendapatkan reward jika ia mampu menirukan apa yang diajarkan Annie Sullivan dan apabila Hellen tidak dapat menirukannya, maka ia akan mendapatkan punishment berupa barang yang ia eja tidak menjadi miliknya. Seperti Hellen mengeja kue “c-a-k-e”, ia bisa melakukannya maka kue itu untuknya.
Annie Sullivan membiasakan Hellen untuk berkomunikasi dengan menggunakan abjad tangan (pembiasaan/conditioning). Seperti mengajari Hellen mengeja kata “cake” sebelum memberinya kue dan lain sebagainya. Ia yakin sebenarnya otak Hellen telah memuat hal itu sebelumnya, karena Hellen sering dimanjakan dan nyaris tak pernah diajarkan untuk memahami apa yang ia lakukan maka sama keadaannya seperti pisau yang jarang diasah. Padahal Hellen adalah anak yang cerdas. Selain itu hal tersebut juga dilakukan secara berulang-ulang (teori pembiasaan perilaku respon).
Annie Sullivan juga membiasakan Hellen makan menggunakan piring sendiri, sendok dan garpu sehingga ia menjadi terbiasa melakukan hal tersebut (pembiasaan/conditioning) serta dilakukan berulang-ulang hingga Hellen mampu melakukannya (teori pembiasaan perilaku respon). Hellen meniru apa yang dilakukan Annie Sullivan terhadapnya, yaitu Annie Sullivan menamparya ketika pertama kali Hellen diajari makan menggukan piring , sendok serta garpu sendiri. (Teori yang dikembangkan oleh Albert Bandura).
Disaat Hellen kembali ke rumahnya setelah waktu dua minggu usai, Hellen kembali pada kebiasaan sebelumnya. Orangtuanya pun, yang sebelumnya menjamin bahwa Hellen akan berperilaku sama seperti pada saat dipisahkan ternyata salah. Kebiasaan Hellen pun menjadi, orangtua menganggap bahwa itu adalah hal yang sepele. Namun Annie Sullivan tidak dapat mentolerir itu. Apalagi saat Hellen menyiramkan air ke muka Annie, Annie langsung naik darah dan ia memberikan punishment agar Hellen mengisi tempat air itu agar penuh seperti semula.
Meskipun teori behaviorisme berhasil digunakan Annie Sullivan dalam mengasuh dan mengajar Hellen, akan tetapi terdapat pula peran teori pembelajaran kognitivisme dalam prosesnya. Yaitu secara kognitif Hellen tidak akan mau mempelajari apa yang diajarkan Annie Sullivan kepadanya jika ia tidak memutuskan mau untuk diajari oleh Annie Sulivan. Hellen juga tidak akan memahami apa yang telah diajarkan oleh Annie Sullivan kepadanya jika ia tidak menghendaki hal tersebut.
Proses belajar itu dapat diamati secara langsung, akan tetapi proses belajar juga merupakan kegiatan mental yang tidak dapat diamati secara langsung. Seperti halnya kehendak atau kemauan, pengambilan keputusan dan lain sebagainya.

Synopsis Film The Miracle Worker


Hellen Keller sejak berusia lima tahun lebih terkunci dalam dunianya. Tidak dapat melihat atau mendengar, ia juga bisu. Frustrasinya sering ditampakkan ke permukaan dan perilakunya digambarkan melalui marah, liar dan berperilaku seperti hewan. Dia memukul orang lain, melemparkan diri ke tanah ketika marah karena tidak mampu berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya. Akhirnya, ketika kenakalan Hellen semakin menjadi dan orang tuanya merasa sudah tidak sanggup lagi bahkan merasa tidak mampu mengendalikannya mereka berkonsultasi pada Dr. Chisolm di Baltimore guna meminta dikirimkan seorang pengasuh sekaligus pengajar untuk Hellen. Dr. Chisolm pun membuat rujukan yang berakhir di guru muda, Annie Sullivan  (Anne Sullivan Macy). Sullivan sendiri telah buta sementara waktu, ketika operasi mata dilakukan padanya kurang lebih 9 kali ia mampu melihat lagi namun masih harus menggunakan kacamata untuk menahan cahaya yang mengenai retinanya.
Annie Sullivan terbukti menjadi kunci untuk membuka dunia Hellen. Ia mengajari Hellen berkomunikasi menggunakan abjad bentuk tangan dengan cara meletakkannya ke tangan orang lain untuk dieja dan diterjemahkan. Meskipun pada awalnya sempat dicemooh oleh keluarga Hellen karena meragukan metode yang diajarkan, hal itu tidak menyurutkan semangat Annie Sullivan untuk tetap mengajari Hellen. Terbukti meskipun ia sempat dikunci oleh Hellen karena tidak memberikan bonekanya ketika perjumpaan pertama, Sullivan berkata, ”Jika kau kira bisa singkirkan aku dengan mudah, kau keliru”. Bahkan komunikasi ini juga mengundang Ibu Hellen untuk turut mempelajarinya.
Sebagian keluarga besar Hellen merasa Annie Sullivan terlalu kasar dalam membimbing Hellen. Mereka bahkan berniat untuk memecat Annie Sullivan yang dianggap telah gagal dalam mengendalikan Hellen. Annie Sullivan memaksa untuk tetap diberi ruang untuk bersama Hellen. Karena ia yakin bahwa Hellen mampu seperti anak-anak di usianya. Meskipun Hellen mengalami kebutaan, tak mampu mendengar dan juga bisu namun masih ada satu cara yaitu dengan tetap mempertahankan metode abjad tangan karena Hellen masih mampu menggunakan indera peraba dan perasanya. Dengan terang-terangan Annie Sullivan meminta waktu untuk bersama Hellen saja tanpa keluarga lainnya termasuk sang Ibu yang begitu memanjakannya dan ia juga meminta dipisahkan dari rumah keluarga Hellen, untuk tinggal di rumah kebun. Pada awalnya keluarga Hellen menolak permintaan Annie Sullivan yang dianggap konyol ini. Namun, sang Ibu memberikan sebuah kesempatan pada Annie Sullivan untuk bersama sekaligus merawat dan mengajari Hellen dalam waktu dua minggu.
Dalam waktu inilah, yang pada sebelumnya Hellen diajak untuk perjalanan jauh (berkeliling kota) dalam waktu dua jam dengan mengendarai kereta kuda agar ia menyangka bahwa keluarganya membawa ia berkunjung ke suatu desa padahal tempat sebenarnya adalah di pavilliun belakang rumahnya. Di pavilliun tersebut dan dalam waktu dua minggu itu Annie Sullivan benar-benar berusaha untuk mengembalikan Hellen layaknya anak biasa yang mampu mengetahui banyak hal yang ia sendiri masih sulit untuk mengetahui makna sebenarnya. Annie Sullivan mengajarkan Hellen mengeja banyak kata. Mulai dari susu (milk), daun (leaf), kuda (horse), air (water), dan kata-kata yang lainnya. Hellen yang dipisahkan dengan keluarganya untuk sementara waktu ini berbeda sikap seperti sebelumnya, ketika berada di rumahnya dan bersama keluarga besarnya. Hellen sebenarnya adalah anak yang cerdas namun karena sering dimanjakan ia menjadi sangat nakal juga pemarah. Ia terlihat begitu manis di tempatnya yang baru. Semangatnya tinggi. Kala malam tibapun ia masih menggunakan tangannya untuk mengeja kata yang diajarkan oleh Annie Sullivan. Ia pun mampu untuk menggunakan piring dan sendok secara baik hingga melipat serbetnya dengan rapi. Juga mampu menyulam.
Sayangnya waktu yang diberikan oleh keluarga Hellen tidak bisa ditawar lagi. Dan Hellenpun harus kembali ke rumahnya. Annie Sullivan cemas, belum puas untuk mengajari Hellen mengeja lebih banyak kata dan mengetahui maknanya. Ketika kembali ke rumah, Hellen juga kembali berperilaku seperti sebelum dipisahkan dari keluarganya. Ia makan dengan mengambil makanan dari piring-piring keluarganya dan membuat Annie Sullivan marah. Karena hal ini dianggap untuk menguji keluarganya. Annie Sullivan meminta waktu untuk bersama Hellen lagi namun ditolak mentah-mentah oleh Ayah Hellen. Annie Sullivan kembali meyakinkan Ayah Hellen karena ia tak ingin Hellen tersesat dan hal ini didukung oleh saudara Hellen, James.
W-A-T-E-R, adalah kalimat pertama yang mengantarkan Hellen memaknai apa yang dia eja. Ini juga merupakan kesuksesan Annie Sullivan untuk tidak berhenti mengajari dan menjadi guru Hellen hingga akhir hayatnya.